SEKILAS INFO
  • 2 tahun yang lalu / Penerimaan Peserta Didik Baru
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan
WAKTU :

TETAPNYA AMAL DENGAN ILMU

Terbit 27 Maret 2024 | Oleh : Admin | Kategori : Pasanan
TETAPNYA AMAL DENGAN ILMU

Rangkuman Ngaji Minhajul Muta’allim
Rabu, 27 Maret 2024
Oleh : DR. K.H. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA
=================================

Diceritakan dari Yahya bin Mu’adz RA bahwasanya ilmu merupakan dalil dalam melakukan amal, kefahaman adalah wadah untuk menampung ilmu, akal adalah penuntun menuju kebaikan sementara hawa adalah kendaraan untuk menuju pada perbuatan dosa, Sedangkan harta berposisi sebagai selendang dari orang-orang yang sombong dan dunia diibaratkan sebagai paritnya akhirat.

Menurut Hasan Al Bashriy, seandainya tidak ada wali abdal niscaya bumi dan isinya akan tenggelam dan andai saja tidak ada orang-orang sholih maka orang-orang fasiq akan hancur. Lebih parahnya, seandainya tidak ada para ulama’ niscaya manusia akan menjadi seperti hewan.

Sayyidina Umar RA berkata: “Sebuah akal tidak akan baik jika tidak disertai dengan sifat wira’i, begitu pula akal tidak akan menjadi utama jika tidak dengan ilmu.”

Nabi Muhammad SAW bersabda:

العَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ بِالعِلْمِ ، وَالعِبَادَةِ ، وَالرِّزْقِ مِنَ الحَلَالِ ، وَالصَّبْرِ عَلَى الشَّدَّةِ ، وَالشُّكْرِ عَلَى النَّعْمَةِ

Artinya: “Keselamatan di dunia dan akhirat itu menggunakan ilmu, ibadah, rizqi yang halal, sabar di saat sulit, dan bersyukur atas sebuah nikmat.”

Nabi Muhammad berkata kepada Iblis “Siapa musuh- musuhmu?”. Iblis menjawab “Engkau, wahai Muhammad, orang ‘alim yang mengamalkan ilmunya, dan orang hafal qur’an yang mengamalkan isi al- qur’an.”

Memandang kedudukan ilmu yang sangat mulia, sampai sampai disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya ilmu tetaplah bermanfaat meski dimiliki oleh seekor anjing galak. Dalam sebuah keterangan dari Syaikh Abu Bakar Ar Rozi, ada sebuah anekdot (lelucon) mengenai kemuliaan sebuah ilmu dan ahli ilmu, bahwasannya di dunia dan akhirat tidak ada makhluk yang lebih mulia daripada orang mukmin, dan tidak ada makhluk yang paling rendah derajatnya melebihi anjing setelah babi. Pada faktanya, Allah SWT menghalalkan hasil buruan anjing yang notabenenya adalah makhluk yang paling hina/rendah bagi orang mukmin yang mana ia adalah makhluk yang paling mulia, seperti dalam firman Allah SWT :

وَمَا عَلَّمْتُمْ مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلَّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ

Artinya. “Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu”.

Ketika kemuliaan ilmu ada pada seekor anjing maka itulah yang akan menaikkan nilainya sehingga diperbolehkan hasil dari buruan anjing untuk orang mukmin yang mulia. Lalu bagaimana jika keutamaan ilmu tersebut ditemukan pada diri seorang mukmin? Jawabannya adalah, tidak ada satupun yang mengetahui kemuliaannya kecuali Allah SWT.

Menurut Ibnu Umar semua manusia sejatinya dalam kondisi sakit, kecuali ulama’ yang mana mereka berposisi sebaga “dokter”. Saat seseorang ingin sembuh dari sakitnya hendaknya ia mendekat untuk berobat ke dokter. Sederhana saja, memandang ulama’ adalah ibadah, berjalan dengan mereka merupakan sebuah kemuliaan, dan duduk untuk makan bersama mereka adalah sebuah obat.

Ulama’ adalah segolongan manusia, siapa saja yang duduk bersama mereka tidak akan pernah merasakan sakit. Barangsiapa menjaga ulama ia akan terjaga, sedangkan yang menyia-nyiakan kan ulama akan dihancurkan.

Perumpamaan orang alim layaknya penjual minyak wangi. kita bisa saja diberi minyak wangi tersebut ataupun membelinya. Kalaupun tidak, kita akan tetap mendapatkan bau harumnya Begitu pula orang alim, kalaupun tidak bisa mendapatkan ilmu atau faidah dari mereka, kita akan tetap mendapatkan barokahnya.

Orang yang berilmu diibaratkan pula seperti pohon yang berbuah, ketika pohon tersebut digoyang-goyangkan, buahnya akan terjatuh sehingga akan diperoleh kemanfaatannya.

Yang terakhir, seorang ulama diperumpamakan layaknya lebah. Dari perut lebah muncul obat yang bermanfaat bagi manusia yakni madu. Sama halnya dengan orang alim, dari lisan-lisan mereka keluar obat bagi para pelaku maksiat.

TETAPNYA AMAL DENGAN ILMU

Abdullah bin Umar RA mengibaratkan orang ‘alim adalah dokter agama, sedangkan dirham (uang) adalah penyakit. Lantas ketika orang ‘alim yang mampu mengobati justru menyeret pada sebuah penyakit untuk dirinya sendiri, bagaimana ia bisa menyembuhkan yang lain?

وَغَيْرُ تَقِيِّ يَأْمُرُ النَّاسَ بِالتُّقَى * طَبِيْبٌ يُدَاوِي النَّاسَ وَهُوَ مَرِيضٌ

“Orang yang tidak bertakwa memerintah orang lain untuk takwa la adalah dokter yang mengobati orang lain sedangkan dia sendiri sakit”.

Sya’ir diatas diucapkan oleh sufi wanita yang sangat masyhur yakni Robi’ah al Adawiyah kepada imam Hasan al Bashri, lalu ia pun menjawab :

خُذِي بِعِلْمِي وَلَا تَنْظُرِي إِلَى عَمَلِي * يَنْفَعُكَ عِلْمِي وَلَا يَضْرُرْكَ تَقْصِيرِي

“Ambillah ilmuku dan janganlah kamu melihat pada amalku, Ilmuku berguna bagimu sedangkan perbuatan ku tidak membahayakanmu”

Demikianlah pembahasan mengenai keutamaan ilmu dan ulama’ dalam ringkasan ini.
Wallahu a’lam bis showab.

BAB II TENTANG GURU

SIFAT-SIFAT GURU YAITU MEMILIKI KEMAMPUAN DAN DAPAT DIPERCAYA

Seorang guru hendaknya menguasai fan jenis ilmu yang
diajarkannya. Seorang guru juga diharuskan memiliki hati dan lisan
yang suci dan tidak gemar ghibah, harus adil dalam persoalan agama,
memberi nasihat dalam segala hal, kehidupannya tentram, memiliki nasab yang mulia, umur yang dewasa, tidak mudah marah, tidak ikut campur urusan pemerintahan, dan tidak bersinggungan dengan urusan dunia sehingga menyibukkannya dari urusan akhirat

Diceritakan oleh Mu’adz bin Jabal RA, ketika seseorang yang berilmu menyukai dunia, maka perkumpulan yang diadakan olehnya akan menambah taraf kebodohannya orang-orang yang bodoh dan menambah kedurhakaan orang-orang yang durhaka.

Dari Anas bin Malik RA. Nabi Muhammad SAW bersabda :

الْعُلَماَءُ أُمَناَءُ الرُّسُلِ ، ماَ لَمُ يُخَالِطُوْا السُّلْطَانَ وَلَمْ يَدْخُلُوا فِي الدُّنْيَا ، فَإِذَا خَلَطُوا السُّلْطَانَ ، وَدَخَلُوا فِي الدُّنْيَا فَقَدْ خَانُوْا الرُّسُلَ ، فَاعْتَزِلُوهُمْ وَاحْتَرِ رُوهُمْ

Artinya “Ulama adalah orang-orang yang diberi amanah oleh para Rosul selama mereka tidak ikut campur dalam masalah pemerintahan dan tidak menggeluti urusan dunia. Ketika mereka ikut campur urusan pemerintahan dan menggeluti urusan dunia maka sesungguhnya mereka telah mengkhianati para Rosul. Maka jauhilah dan jagalah diri kalian dari mereka.”

Diceritakan dari Abi Ja’far Al Hindawanı yang diceritakan dari Ma’ruf Al Kurkhiy, ia berkata Ketika Abu Sufyan wafat aku tidak berniat menghadiri jenazahnya karena semasa hidupnya is berurusan dengan pemerintahan. Dan ketika sebelum dimakamkan su melihatnya dalam mimpi, aku berkata kepadanya “Apa yang Allah perbuat padamu?” Abu Sufyan menjawab “Tuhanku mengampuniku”, aku berkata “Dengan apa?” ia menjawab Dengan nasihatku kepada umat muslim” Kemudian aku terbangun dan langsung menyaksikan jenazahnya.

KEWAJIBAN GURU YAITU MENJAGA DAN MEMULIAKAN

Hal pertama harus dilakukan oleh seorang guru ketika ada murid baru adalah menjaga dan memuliakannya. Seorang guru wajib memuliakan murid baru tersebut hingga sang murid merasa senang kepadanya. Adanya murid baru dibaratkan seperti burung liar yang tidak menyukai apapun kecuali hal yang bersifat kelembutan. Bagi seorang murid baru, ilmu adalah hal yang berat lagi pahit, sehingga seorang guru diharuskan untuk bersikap baik kepada murid baru tersebut. Seperti sabda nabi Muhammad SAW :

العِلْمُ مُرٌّ، فَاجْعَلُوهُ حَلْوًا بِالتَّلَطَّفِ وَالتَّعَطْفِ

Artinya “Ilmu itu pahit, maka jadikanlah ia manis dengan kelembutan dan kasih sayang”.

Ketika mengajar, sebaiknya suara seorang guru jangan terlalu jauh hingga suaranya tidak terdengar serta janganlah sibuk dengan pekerjaan pribadi.

MENDIDIK MURID

Seorang guru diwajibkan memberikan pendidikan adab terlebih dahulu kepada murid sebelum ia memberikan malen pelajaran. Hal demikian dilakukan karena sebuah tujuan materi pelajaran tidak akan dicapai kecuali setelah diberikan pendidikan adab kepada murid. Karena dapat dipastikan bahwa ketika seseorang ndak memiliki adab maka ia tidaklah memilıkı ilmu.

والله اعلم با الصواب

SebelumnyaPAHALA ILMU DAN KEUTAMAANNYA DI DUNIA DAN AKHIRAT SesudahnyaSyeikh Dr. Ammar Azmi Al-Rafati Al-Jailani, Imam Besar Masjid Aqsa Palestina, Cicit ke-28 Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, Berikan Sanad Kepada Asatidz Asatidzah dan Segenap Santri Senior PPFF

Berita Lainnya

0 Komentar

Lainnya