SEKILAS INFO
  • 2 tahun yang lalu / Penerimaan Peserta Didik Baru
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan
WAKTU :

Akhlak Nabi Muhammad SAW

Terbit 19 Maret 2024 | Oleh : Admin | Kategori : Pasanan
Akhlak Nabi Muhammad SAW

Rangkuman Ngaji Nurul ‘Uyun (Siroh Nabawiyyah)
Selasa, 19 Maret 2024
Oleh : Gus Ahmad Syauqi Istiqlaly

=================================

بسم الله الرحمن الرحيم

Sayyidah Aisyah ditanya perihal akhlak Nabi, dan Beliau menjawab:
كان خلقه القرآن يغضب لغضبه ويرضى لرضاه
“Akhlak Rasulullah saw. adalah Al-Qur’an. Marah dan ridhanya sesuai dengan Al-Qur’an.”

Nabi SAW merupakan orang yang paling berani, dan paling dermawan, Nabi tidak pernah mengatakan “tidak” (terhadap permohonan orang lain). Beliaupun tidak meninggalkan satu dinar atau satu dirham pun di rumah semalaman, apabila tidak menemukan orang untuk mengambilnya dan malam pun tiba, Nabi menginfaq-kan kepada seseorang yang membutuhkan. Nabi tidak mengambil apa pun dari apa yang telah Allah berikan kepadanya kecuali (menyisihkan) rezeki teruntuk keluarganya selama setahun, hanya dari apa yang paling mudah yang dia temukan seperti kurma dan jelai/barli.

Nabi Muhammad adalah manusia yang paling jujur dalam ucapanya, paling menunaikan kewajiban dan menepati tanggung jawabnya, paling lemah lembut di antara manusia, dan paling mulia di antara mereka, dan Nabi orang yang paling tidak mudah marah, dan sosok pemula, Nabi menjaga pandangannya dan Nabi lebih sering menunduk daripada mendongak, seetiap pandangan Nabi pada setiap apapun itu berupa memperhatikan (الملاحظة) sehingga Nabi tidak pernah lalai.

Siapa pun yang bergaul dengan Nabi tidak akan kecewa dan akan mencintai Nabi. Nabi mempunyai sahabat-sahabat yang senantiasa mengelilingi Nabi. Tatkala Nabi berbicara, maka para sahabat mendengarkan apa yang Nabi katakan, dan jika Nabi memberi perintah, maka mereka bergegas untuk melaksanakannya. Nabi memulai dengan menyapa dan memberi sala, basa-basi (memberikan pujian) kepada sahabat-sahabatnya, dan bertanya tentang mereka, apabila terdapat sahabat yang sedang sakit maka Nabi akan menjenguknya, sahabat yang tidak hadir maka Nabi akan mendoakannya, jika terdapat sahabat yang meninggal, Nabi melafalkan kalimay istirja’ (إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ), kerap kali Nabi berkunjung ke rumah para sahabat dan bahkan berkunjung ke kebun milik mereka, ketika Nabi disuguhi makanan maka Nabi menyantap jamuan guna menghormati ahlu bait.

Nabi menghormati orang-orang terhormat dan menghormati orang-orang yang berbudi luhur. Nabi tidak berpaling memunggungi siapa pun, tidak bersikap tidak adil kepada siapa pun, dan Nabi menerima alasan orang yang meminta maaf kepadanya, yang kuat dan yang lemah dalam pandangan Nabi tentang urusan kebenaran itu setara, Nabi tidak membiarkan siapa pun berjalan di belakangnya, Nabi tidak mengijinkan seorang pun (lelah) berjalan ketika Nabi sedang menunggangi kendaraan, maka Nabi akan menawarkan tumpangan, dan jika menolak, Nabi menyuruh untuk dia berjalan didepannyanya, dan Nabi berkata: “ Bawalah aku ke tempat itu, seperti yang kamu tuju”. Bahkan Nabi melayani orang-orang yang (mestinya) mengabdi melayani Nabi sebab Nabi mempunyai memiliki budak baik laki-laki maupun perempuan namu Nabi tidak mengungguli mereka dalam hal makanan dan pakaian (tidak jauh beda).

(Pengakuan) sahabat Anas RA berkata: “Aku mengabdi kepada Nabi selama sepuluh tahun, demi Allah aku tidak pernah membersamai Nabi minum, berkumpul, atau bepergian untuk mengabdi, kecuali pengabdiannya kepadaku justru lebih besar dari pengabdianku kepadanya. Nabi tidak pernah berkomentar atas apa pun yang saya lakukan: “Mengapa kamu melakukan ini dan itu?”, Dan Nabi Saw pun tidak pernah berkata atas apa yang tidak saya kerjakan, seperti: “Mengapa engkau tidak mengerjakannya?”.

Tatkala Nabi sedang dalam perjalanan, Nabi memerintahkan untuk (ditemukan) jalan damai atas perselisihan perihal seekor kambing, seorang berkata: :”Wahai Rasulullah, aku harus menyembelihnya”, yang lain berkata: “Aku harus mengulitinya”, yang lain berkata: “Aku harus memasaknya”, lantas Nabi berkata: “Aku yang (akan) mencari kayu bakar”.
Lalu mereka merasa sungkan dan berkata: “Wahai Rasulullah, kami sudah cukup untuk mengurusinya, dan Nabi berkata: “Aku tahu itu, tapi aku tidak suka dibedakan (dispesialkan) diantara kalian, karena Allah tidak suka hamba-Nya yang terlihat menonjol di antara teman-temannya.”. Dan Nabi pun tetap berangkat untuk mengumpulkan kayu bakar.

والله أعلم باالصواب

SebelumnyaKEUTAMAAN ANTARA AHLI ILMU DAN AHLI IBADAH SesudahnyaRangkuman Ngaji Nurul 'Uyun (Siroh Nabawiyyah) Rabu, 20 Maret 2024

Berita Lainnya

0 Komentar

Lainnya