SEKILAS INFO
  • 2 tahun yang lalu / Penerimaan Peserta Didik Baru
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan
WAKTU :

Pengertian Qardh Dan Hajr

Terbit 12 Agustus 2022 | Oleh : Admin | Kategori : Fiqih
Pengertian Qardh Dan Hajr

QARDH

Secara bahasa, Qardh berarti potongan. Sedangkan secara syara’, Qardh berarti pemilikan suatu barang dengan mengembalikan penggantinya.

Rukun Qardh

Rukun qardh ada empat yaitu orang yang menghutangi, orang yang menerima hutang, harta atau barang yang dihutangkan dan shighat.

Syarat Pemberi Hutang

Syarat pemberi hutang ada dua yaitu:
1. Tidak terpaksa
2. Ahli beribadah atas barang yang dipinjamkan

Dalam hal ini orang yang memberi hutang tidak terpaksa, ia dalam keadaan dapat memilih ingin menghutangi atau tidak.

Syarat Penerima Hutang

Syarat Penerima hutang ada dua yaitu:
1. Berhak memilih
2. Ahli muamalah

Orang yang menerima hutang dalam keadaan dapat melih serta mampu atau layak melakukan transaksi.

Syarat Barang (Hutang)

Syarat barang yang dihutangkan adalah barang tersebut sah dijadikan akad salam.

Syarat Sighat Akad Qardh

Syarat sighat akad Qardh (hutang) adalah sama dengan syarat sighat jual beli.

Contoh Akad Pinjaman

Zaid berkata kepada Amr “aku menghutangkan kamu satu dinar ini”. Kemudian Amr menjawab “aku terima”.

HAJR

Secara bahasa hajr berarti melarang. Sedangkan secara syara’ hajr berarti melarang dari tasharuf (pengolahan harta) tertentu karena sebab tertentu pula.

Macam-Macam Hajr

Macam-macam hajr ada dua yaitu:
1. Hajr yang dilakukan adalah untuk kepentingan orang yang dihajr (ditahan) itu sendiri. Ada beberapa yang termasuk kedalam macam ini.

2. Hajr yang dilakukan untuk kepentingan pihak lain. Ada beberapa orang yang masuk macam ini.

Contoh macam hajr yang pertama adalah hajr yang dilakukan terhadap orang yang bodoh yang menghamburkan hartanya.

Contoh macam yang kedua adalah hajr yang dilakukan kepada orang yang bangkrut terhadap keadaan hartanya. Orang yang bangkrut secara syara’ adalah orang yang memiliki hutang kepada manusia, yang sudah jatuh tempo dan harus dibayar, lebih banyak daripada harta yang ia miliki.

Seseorang yang dihajr (ditahan untuk tidak melakukan transaksi) untuk kebaikan dirinya sendiri misalnya anak kecil memiliki uang yang banyak. Ia dilarang tasharuf untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan karena ia belum mengerti hal-hal yang bermanfaat untiknya.

Contoh Hajr Kepada Orang yang Bodoh

Contohnya, Amr menyia-nyiakan hartanya (berfoya-foya), padahal ia sudah mampu berfikir (dewasa). Oleh Karena itu hakim menahannya dalam tasharuf dan berkata ” Aku meng-hajr Amr dari melakukan transaksi terhadap hartanya”

Contoh Hajr Terhadap Orang yang Bangkrut

Zaid memiliki hutang kepada Amr sebanyak 1000 dinar, hutang yang jatuh tempo dan harus dibayar. Sementara nilai hutang tersebut melebihi seluruh asetnya. Maka, Zaid atau Amr atau keduanya meminta kepada hakim agar melakukan hajr kepada Amr. Kemudian hakim berkata “aku meng-hajr Amr dari melakukan tasharuf (transaksi) terhadap hartanya.

والله أعلم بالصواب

Sekian rangkuman kitab Al-Yaqutun Nafis semoga bermanfaat. Nantikan rangkuman materi berikutnya di hari Kamis selanjutnya✨

SebelumnyaTOT to Islamic Da'wah bersama Al Habib Syeikh Thariq Ghannam Al Hasani dari Global University Lebanon SesudahnyaDibalik Kesuksesan Orang-Orang yang Anda Lihat Saat Ini Ada Peroses Panjang yang Dilaluinya || TGB, Habiburrahman El Shirazy

Berita Lainnya

0 Komentar

Lainnya