SEKILAS INFO
  • 2 tahun yang lalu / Penerimaan Peserta Didik Baru
  • 2 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan
WAKTU :

Hilangnya Perbudakan di Masa Kini, Kekosongannya Jihad dan Udzurnya Hukum Had Islam

Terbit 19 April 2021 | Oleh : Admin | Kategori : Pasanan
Hilangnya Perbudakan di Masa Kini, Kekosongannya Jihad dan Udzurnya Hukum Had Islam

Rangkuman Ngaji Pasanan
Kitab Al- Ulama’ Al Mujaddidun
Karya : Syaikh KH. Maimoen Zubair
Senin, 19 April 2021 di Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Semarang,
oleh Dr. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA

بسم الله الرحمن الرحيم

“Hilangnya Perbudakan di Masa Kini, Kekosongannya Jihad dan Udzurnya Hukum Had Islam”

Perlu diketahui bahwa hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an itu tidak dihapuskan setelah wafatnya Rasullulah SAW, sekalipun kita tahu ada beberapa hukum yang tidak bisa diimplementasikan pada zaman sekarang, seperti :

1. Memerdekakan budak, sebagai kafarat pembunuhan tanpa disengaja, kafarat dzihar, dan kafarat melanggar sumpah. Mengapa tidak bisa untuk diteruskan, sebab hukum tersebut sudah dihapuskan dan dilarang oleh undang-undang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dengan hilangnya hukum perbudakan, sekaligus juga menghapus salah satu dari penerima zakat, yang ada 8, yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an. Dan disebutkan juga oleh ulama’ modern seperti, Syekh Rasyid Ridho, Syekh Mahmud Syaltut, dan Syekh Yusuf Al-Qaradlwi.

Kemudian dijelaskan juga masalah tersebut didalam kitab Bughyatul Mustarsyidin oleh penulisnya yaitu Sayyid Abdurrahman bin Muhammd Ba-Alawi Al-Masyhur :
“Wajib bagi setiap orang yang mempunyai harta yang telah dizakati untuk mengetahui kelompok penerima zakat yang berjumlah delapan. Namun yang dapat ditemukan pada zaman sekarang hanya ada lima : fakir, miskin, orang yang terlilit hutang, muallaf dan ibnu sabil (musafir). Namun DR. K.H. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA menambah keterangan lagi yaitu Al- ‘Amilina (amil zakat).

2. Menegakkan Jihad di Jalan Allah
Melaksanakan jihad merupakan fardhu dari fardhunya islam, dan meyakini bahwasanya hal tersebut telah ada dari dahulu hingga hari kiamat. Sebab sulitnya melaksanakan jihad dimasa kini, menjadikan jihad tersebut sulit ataupun kosong untuk dilaksanakan. Mengapa demikian, sebab tidak adanya imam atau pemimpin yang memerintahkan pasukannya atau pengikutnya untuk jihad dijalan Allah. Mustinya adanya imam tersebut harusnya menjadi pelindung bagi kaum muslimin, seperti yang telah disabdakan Rasulullah SAW :

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدْلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ ، وَإِنْ يَأْمُر بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ [ صحيح مسلم ]

“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai bagi umatnya dan yang diikuti, Jika ia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan berbuat adil, maka ia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika ia memerintahkan selain itu, maka ia juga akan merasakan yang akan menimpanya .”

Kemudian disebutkan dalam riwayat lain:

من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن يطع الأمير فقد أطاعني ومن يعص الأمير فقد عصاني وإنما الإمام جنة يقاتل من وراٸہ ويتقى به فإن امر بتقوى الله وعدل فإن لہ بذلك أجرا وإن قال بغيرہ فإن عليه منه
[HR. Bukhari]
“Barang siapa yang patuh kepadaku (nabi) maka ia patuh juga kepada Allah. Barang siapa yang durhaka padaku, maka ia durhaka pada Allah. Barang siapa yang patuh kepada pemimpin, maka ia patuh juga padaku. Barang siapa durhaka pada pemimpin, maka ia durhaka padaku. Imam adalah perisai bagi umatnya dan yang diikuti. Apabila ia memerintahkan taqwa kepada Allah dan adil maka ia mendapat pahala, tetapi bila memerintahkan selain itu maka ia akan merasakan yang menimpanya”

3. Hukum Pidana Islam ( Al-Hudud)
Sebab tidak adanya wujud negara yang menerapkan had/ pidana islam, dikarenakan dihapusnya undang-undang undang tersebut dalam konstitusi negaranya. Kecuali kerajaan Arab Saudi, sebab berkahnya Nabi Muhammad SAW. Dan hukum-hukum syariat yang tidak sudah mampu kita amalakan, maka tidak boleh untuk digantikannya apalagi mengatasnamakan ijtihad dan istimbat atau mengeluarkan hukum. Maka cukup bagi kita untuk melasanakan semampu diri kita. Allah SWT berfirman :

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
QS. Al-Baqarah Ayat 286

Dikarenakan itu kita hendaknya meminta maaf dan bersedih, sebab tidak bisa menerapkan hukum tersebut. Bersabar dan menunggu kemudahan dari Allah Ta’ ala. Sampai waktu dan keadaan yang Allah berikan untuk menjalankan perintahnya. Serta menyakini bahwa syariat islam tersebut baik bagi setiap manusia di seluruh zaman, tempat, dan negara.
Sesungguhnya mereka yang mengamalkan hukum-hukum islam akan mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun akhirat.

والله أعلم بالصواب

SebelumnyaBerwudhu Menggunakan Air Yang Tersimpan Di Dalam Tisu SesudahnyaPenjelasan Bait ke-3 & 4 dari Kitab Nur Azh-Zhalam (Syarh Aqidatul Awam) #4

Berita Lainnya

0 Komentar

Lainnya